BLOG

BLOG

Breaking News: Brexit – Sekali Lagi Theresa May Kalah

[fa icon="calendar"] February 15, 2019 at 1:35 PM / by Fullerton Markets

Diskusi Parlemen menghasilkan Voting yang tidak pro ke strategi Pemerintah, Sell GBPUSD?

Voting apa kali ini yang membuat May kalah?

Ini bukan voting yang sama seperti yang dialami oleh PM Theresa May pada bulan lalu, melainkan ini adalah voting terhadap mosi dukungan parlemen menyangkut strategi negosiasi pemerintah.

Hasilnya adalah 303 berbanding 258, dimana lebih banyak yang menentang mosi dukungan terhadap strategi negosiasi pemerintah.

Sebenarnya kekalahan voting ini tidak memiliki kekuatan hukum, dikarenakan ini hanyalah voting hasil debat diantara Parlemen sendiri. Sehingga PM Theresa May masih tetap bisa melanjutkan pendekatan terhadap pihak Uni Eropa.

Pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn mendesak PM May untuk "mengakui strategi Brexitnya telah gagal" dan untuk maju dengan rencana lain yang akan didukung Parlemen.

Kekalahan itu muncul setelah MP Konservatif Grup Riset Eropa Pro-Brexit (ERG) mengumumkan bahwa mereka telah mengambil "keputusan kolektif" untuk abstain, karena mendukung mosi itu berarti mendukung upaya untuk menyingkirkan Brexit tanpa kesepakatan.

Meskipun PM May secara konsisten menolak seruan untuk mengesampingkan Brexit tanpa kesepakatan, tetapi ada yang berpendapat dan meyakini bahwa meskipun begitu tetap pada akhirnya akan ada potensi dari pemerintah untuk membuka kemungkinan tersebut.

Mosi menegaskan kembali dukungan untuk pendekatan Brexit yang didukung oleh anggota parlemen dalam pemungutan suara bulan lalu, salah satunya menyingkirkan kemungkinan Brexit tanpa kesepakatan.

Angka-angka pemilihan menunjukkan bahwa tidak hanya Brexiteers garis keras gagal mendukung pemerintah – beberapa pengikut Tory juga menolak memberikan suara, karena lebih dari seperlima dari partai di Parlemen gagal mendukung pemerintah.

Jeremy Corbyn pun dianggap hanya “menempatkan pertimbangan partai diatas kepentingan Nasional” dengan memberikan suara menentang mosi pemerintah.

Reaksi Pemerintah melalui juru bicaranya

Juru bicara No. 10 mengatakan PM akan terus mencari perubahan yang mengikat secara hukum terhadap hambatan kontroversial perbatasan Irlandia, karena anggota parlemen telah menginstruksikan dia pada saat voting pada tanggal 29 Januari.

"Meskipun kami tidak mendapat dukungan dari Parlemen malam ini, PM tetap yakin, bahkan terlihat dari debat bahwa jauh dari keberatan dalam mengamankan backstop sehingga mengamankan kemungkinan kita untuk keluar dengan kesepakatan, ada kekhawatiran dari beberapa rekan Konservatif tentang tidak ada kesepakatan pada tahap ini," tambahnya.

Kekalahan voting ini memang dapat merusak posisi negosiasi perdana menteri, ketika ia mencoba membuat perubahan pada "kebijakan asuransi" yang kontroversial dalam perjanjiannya untuk menghindari pemeriksaan pabean antara Irlandia Utara dan Republik Irlandia.

Wakil ketua ERG Steve Baker mengatakan kepada BBC News bahwa kelompok itu masih mendukung upaya untuk mendapatkan "pengaturan alternatif" untuk menggantikan rencana backstop Irlandia yang kontroversial, menggambarkan kekalahan PM May sebagai "badai dalam cangkir teh".

PM May telah berjanji pada anggota parlemen untuk memberikan suara terakhir dan menentukan pada kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa ketika dia telah mengamankan perubahannya yang diyakini ingin dilihat oleh para anggota parlemen.

Dia percaya dia bisa mengamankan mayoritas parlemen untuk kesepakatan itu jika dia bisa mendapatkan perubahan yang mengikat secara hukum pada klausul backstop – sesuatu yang secara konsisten dikesampingkan oleh UE.

Sekretaris Brexit Steve Barclay telah berjanji untuk memanggil kepala negosiator Uni Eropa Michel Barnier setelah pemungutan suara untuk membahas hasilnya. Kedua pria itu akan memulai kembali pembicaraan di Brussels awal minggu depan.

Apa yang mungkin terjadi pada GBP selanjutnya?

Secara fundamental, hal ini tentunya membuat daya tawar PM May dimata Uni Eropa sedikit menurun, akan tetapi hal ini pun menunjukkan kekuatan Nasional dari Inggris yang sangat ingin mempunyai suatu kesepakatan yang jelas sebelum pada akhirnya keluar dari Uni Eropa.

Secara pergerakan, diyakini bahwa GBP akan tetap berada di area 1.27 hingga 1.31 untuk beberapa saat kedepan. Penurunan bisa terjadi jika pada akhirnya tetap tidak ada kejelasan dalam diskusi antara pemerintah dan parlemen sendiri. 

Jika memang pada akhirnya tidak ada kejelasan maka diprediksi GBP ada kemungkinan jatuh ke area 1.25.

gbp

 

New call-to-action

 

Tim Riset Fullerton Markets

Rekan Trading Anda yang Setia


Topics: Breaking News, 2019


Fullerton Markets