BLOG

BLOG

Perang Dagang Meningkatkan Lebih Dari 200B Dollar AS Dari Tarif Yang Dikenakan

[fa icon="calendar"] July 16, 2018 at 5:11 PM / by Fullerton Markets

Trump berencana memberlakukan tarif 10% pada $200 miliar dalam impor Cina, Short AUDUSD?

Dolar naik karena meningkatnya ketegangan perdagangan memicu permintaan safe haven dan bertindak sebagai hambatan pada mata uang lainnya.

Keputusan China untuk memberlakukan tarif 25% atas barang-barang AS senilai US$34 miliar sebagai respons terhadap retribusi AS yang serupa. Negosiasi dagang gagal, dan perang dagang dimulai ketika kedua negara memberlakukan 25 persen dari produk masing-masing senilai US$34 miliar. Gelombang kedua senilai US$16 miliar diperkirakan mulai berlaku minggu depan.

Dolar naik secara default karena euro dolar terus tertekan oleh Trump, sterling ditekan oleh Brexit dan komoditas dolar seperti dolar Selandia Baru dan dolar Aussie tertekan oleh kekhawatiran perang dagang. Trump telah berhasil mengasingkan setiap sekutu AS selama turnya di Eropa yang tampaknya telah mendorong investor ke dalam dolar, karena pasar khawatir bahwa kebijakan isolasionisnya akan merusak perdagangan global yang tergantung pada ekspor.

Perang dagang malah menyamarkan masalah besar yang dihadapi China yaitu perlambatan ekonomi serta besarnya utang yang ada di sistem keuangan.

Total hutang China saat ini mencapai 250% dari PDB mereka, merupakan hutang yang sangat tinggi.

Jika hal  itu merupakan suatu masalah bagi ekonomi China, berarti masalah juga bagi ekonomi global secara umum dan ekonomi Australia pada khususnya. Kebijakan domestik Cina untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi, mempengaruhi pertumbuhan global dan khususnya kepada pemasoknya, seperti Australia.

Pertumbuhan total pembiayaan sosial dan pasokan uang China mencapai titik terendah dalam sejarah bulan lalu. Meskipun perdagangan China surplus dengan AS membengkak menjadi rekor pada bulan Juni, mencapai rekor tertinggi bulanan sebesar $28,97 miliar, naik dari $24,58 miliar pada bulan Mei, ada tanda-tanda eksportir bergegas melakukan pengiriman sebelum pemberlakukan tarif mulai pada minggu pertama bulan Juli yang menunjukkan satu kali lonjakan surplus. Ini juga menunjukkan permintaan domestik yang menurun dengan kontraksi yang lebih tajam dari yang diperkirakan dalam impor.

GDP China juga melambat dari 6,8% pada kuartal pertama menjadi 6,7% pada kuartal ke-2. Perekonomian China kehilangan tenaga karena pertumbuhannya pada laju paling lambat sejak 2016, mencatat pertumbuhan industri yang lebih lambat dan kehati-hatian dari produsen ekspor akibat perang perdagangan.

Minggu ini kami memiliki serangkaian data ekonomi dari China yang kemungkinan akan terbukti berpengaruh pada dolar Aussie. Australia juga akan merilis data pekerjaannya serta notulen pertemuan kebijakan moneternya. Tingkat pengangguran Australia diperkirakan akan tidak berubah sementara notulen pertemuan kebijakan moneter sebaiknya tetap mencerminkan sikap dovish Gubernur Rale Lowe terhadap dolar Aussie yang agak melemah.

 

Petikan Kita

AUD/USD – Agak bearish.

Harga saat ini mencapai resistensi besar dan dengan GDP China yang lebih lemah, kita bisa melihat penurunan ke 0,7360 minggu ini.

 

USD/JPY – Agak bullish.

Dolar telah menjadi tujuan utama bagi investor safe-haven. Kita bisa melihat pasangan ini terus naik ke level 113,20.

 

XAU/USD (Emas) – Agak bearish.

Kita bisa melihat emas terus turun ke level harga 1238 karena permintaan emas yang melemah sebagai safe haven

 

 

Tim Riset Fullerton Markets

Mitra Komitmen Dagang Anda


Topics: Weekly Market Research, 2018


Fullerton Markets